Bagian Kedua Zail
Al-Kalimat · hlm. 107
[Dari sembilan maqam mengenai sembilan lapisan burhan-burhan kebangkitan yang diisyaratkan secara mukjizat oleh ayat di awal: "Maqam Pertama":]
فَسُبْحَانَ اللّٰهِ ح۪ينَ تُمْسُونَ وَح۪ينَ تُصْبِحُونَ ❊ وَلَهُ الْحَمْدُ فِى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَعَشِيًّا وَح۪ينَ تُظْهِرُونَ ❊ يُخْرِجُ الْحَىَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَىِّ وَيُحْيِى اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذٰلِكَ تُخْرَجُونَ
Burhan yang gemilang dan hujjah yang pasti, yang diperlihatkan di sini mengenai firman kebangkitan dalam penggalan ayat tersebut, akan diterangkan dan dijelaskan, insyâ Allah. {(Hasyiyah): Maqam itu belum ditulis; persoalan kehidupan masuk ke sini karena hubungannya dengan kebangkitan. Namun isyarat kepada rukun takdir di penghujung pembahasan kehidupan itu amat halus dan dalam.}
Dalam ciri khas kedua puluh delapan dari kehidupan telah diterangkan bahwa: kehidupan memandang kepada enam rukun iman dan membuktikannya. Ia memberikan isyarat-isyarat kepada terwujudnya rukun-rukun itu. Ya, madem hasil terpenting alam ini, raginya, dan hikmah penciptaannya adalah kehidupan. Tentu hakikat yang tinggi itu tidak terbatas pada kehidupan duniawi yang fana, amat singkat, kurang, dan penuh derita ini. Melainkan tujuan pohon kehidupan — yang keagungan hakikat-dirinya dipahami melalui dua puluh sembilan ciri khasnya — hasilnya, dan buah yang layak bagi keagungan pohon itu ialah: kehidupan abadi, kehidupan akhirat, dan kehidupan di negeri kebahagiaan yang batunya, pohonnya, dan tanahnya pun hidup. Jika tidak, niscayalah pohon kehidupan yang diperlengkapi dengan perangkat-perangkat penting tanpa batas ini menjadi tanpa buah, tanpa manfaat, tanpa hakikat bagi makhluk berkesadaran — khususnya bagi manusia; dan manusia — yang dari segi modal dan perangkat, misalnya, dua puluh derajat melebihi burung pipit, dan merupakan makhluk terpenting, tertinggi, dan paling berharga di alam ini dan di antara para makhluk hidup — akan jatuh dua puluh derajat di bawah burung pipit dari segi kebahagiaan hidup, menjadi yang paling malang dan paling hina.
Lagi pula akal — nikmat yang paling berharga itu — dengan memikirkan kesedihan-kesedihan masa lalu dan ketakutan-ketakutan masa depan, akan terus-menerus melukai kalbu manusia; karena mencampurkan sembilan penderitaan ke dalam satu kelezatan, ia menjadi bencana yang paling penuh musibah. Padahal ini seratus derajat batil. Berarti kehidupan duniawi ini membuktikan secara pasti rukun iman kepada akhirat, dan pada setiap musim semi memperlihatkan kepada mata kita lebih dari tiga ratus ribu contoh kebangkitan. Gerangan mungkinkah sama sekali: Sang Pengatur Yang Qadîr — yang menyiapkan dengan hikmah, inayah, dan rahmat seluruh keperluan dan perangkat yang diperlukan dan sesuai bagi hidupmu, di tubuhmu, di kebunmu, dan di tanah airmu, lalu menyampaikannya tepat pada waktunya; yang bahkan mengetahui dan mendengar doa rezeki yang khusus dan juz'i dari lambungmu, yang dipanjatkannya dengan keinginan untuk kekal dan hidup, lalu memperlihatkan pengabulan doa itu dengan makanan-makanan lezat tanpa batas dan memuaskan lambung itu — tidak mengenalmu dan tidak melihatmu; tidak menyiapkan sebab-sebab yang diperlukan bagi kehidupan abadi, tujuan terbesar jenis manusia? Tidak mengabulkan doa kekekalan jenis manusia — doa yang terbesar, terpenting, paling layak, dan paling umum itu — dengan membangun kehidupan akhirat dan menciptakan Surga? Tidak mendengar doa umum nan amat kuat dari jenis manusia — makhluk terpenting alam, bahkan sultan dan hasil bumi — yang menggemakan 'Arasy dan hamparan bumi; tidak memberinya perhatian sekadar sebuah lambung kecil pun; tidak memuaskannya? Lalu membuat hikmah-Nya yang sempurna dan rahmat-Nya yang tak terhingga diingkari? Hâsyâ, seratus ribu kali hâsyâ!..
Mungkinkah pula: Dia mendengar suara paling tersembunyi dari kehidupan yang paling juz'i, mendengarkan deritanya, memberinya obat, menanggung kemanjaannya, memeliharanya dengan perhatian dan kesungguhan sempurna, membuat makhluk-makhluk besar-Nya berkhidmah kepadanya dengan cermat — lalu tidak mendengar suara tinggi laksana gema langit dari sebuah kehidupan yang terbesar, paling berharga, kekal, dan paling dimanjakan? Tidak memperhatikan doa kekekalannya yang amat penting, kemanjaannya, dan munajatnya? Seakan-akan Dia memperlengkapi dan mengurus seorang prajurit dengan perhatian sempurna, namun sama sekali tidak menoleh kepada pasukan besar yang taat dan megah? Melihat zarah namun tidak melihat matahari? Mendengar suara nyamuk namun tidak mendengar guruh? Hâsyâ, seratus ribu kali hâsyâ!
Mungkinkah pula akal menerima dari sisi mana pun: Sang Dzât Qadîr Hakîm — yang rahmat-Nya tak terhingga, penuh kecintaan, dan pada derajat tertinggi penuh kasih sayang; yang amat mencintai seni-Nya sendiri, menjadikan diri-Nya dicintai, dan lebih mencintai orang-orang yang mencintai-Nya — memusnahkan dengan kematian abadi kehidupan yang paling mencintai-Nya, yang tercinta dan dicintai, yang secara fitrah menyembah Shâni'-nya, beserta ruh — zat dan permata kehidupan itu; membuat kekasih dan pencinta-Nya itu merajuk kepada-Nya selamanya, sakit hati, terluka secara dahsyat; membuat rahasia rahmat-Nya dan cahaya kecintaan-Nya diingkari dan mengingkarinya? Hâsyâ, seratus ribu kali hâsyâ wa kallâ!.. Keindahan mutlak yang menghiasi alam ini dengan manifestasinya dan rahmat mutlak yang menggembirakan segenap makhluk, tentu tersucikan dan mahakudus — pada derajat tanpa batas — dari keburukan tanpa batas semacam itu, dari keburukan mutlak, dari kezaliman mutlak semacam itu, dari ketiadaan rahmat.
Kesimpulan: Madem di dunia ada kehidupan; tentu orang-orang yang memahami rahasia kehidupan dan tidak menyalahgunakan hidupnya akan memperoleh kehidupan kekal di negeri kekal dan di Surga yang kekal, âmannâ...
Dan sebagaimana: berkilaunya benda-benda berkilau di muka bumi dengan pantulan matahari, dan berkilau lalu padamnya gelembung-gelembung di permukaan lautan dengan kilau-kilau cahaya, kemudian gelembung-gelembung yang datang di belakang mereka kembali menjadi cermin bagi matahari-matahari kecil khayali seperti yang telah pergi — memperlihatkan dengan amat nyata bahwa: kilau-kilau itu adalah manifestasi pantulan satu matahari yang tinggi; semuanya menyebut wujud matahari dengan bahasa yang berbeda-beda dan menunjuk kepadanya dengan jari-jari cahaya. Persis seperti itu pula: berkilaunya para makhluk hidup di daratan dan di dalam lautan dengan kudrat Ilahi melalui tajalli teragung nama Muhyî dari Sang Dzât Hayy Qayyûm, lalu bersembunyinya mereka di tirai gaib seraya berkata "Yâ Hayy" demi memberi tempat bagi yang datang di belakang mereka — sebagaimana memberikan kesaksian dan isyarat kepada kehidupan Sang Dzât Hayy Qayyûm, pemilik kehidupan sarmadi, dan kepada wujûb wujud-Nya; demikian pula seluruh dalil yang bersaksi bagi ilmu Ilahi — yang jejaknya tampak pada penataan segenap makhluk; seluruh burhan yang membuktikan kudrat yang mengatur alam; seluruh hujjah yang membuktikan iradah dan kehendak (masyî'ah) yang berkuasa dalam penataan dan pengaturan alam; seluruh alamat dan mukjizat yang membuktikan risalah-risalah — tumpuan kalam Rabbani dan wahyu Ilahi; dan demikian seterusnya — seluruh dalil yang bersaksi bagi tujuh sifat Ilahi, secara sepakat menunjukkan, menyaksikan, dan mengisyaratkan kehidupan Sang Dzât Hayy Qayyûm. Sebab sebagaimana jika pada sesuatu ada penglihatan, ada pula kehidupannya. Jika ada pendengaran, itu tanda kehidupan. Jika ada berbicara, ia menunjuk kepada wujud kehidupan. Jika ada ikhtiar dan iradah, ia memperlihatkan kehidupan. Persis seperti itu pula: sifat-sifat seperti kudrat mutlak, iradah yang meliputi, dan ilmu yang meliputi — yang wujudnya pasti dan terang-benderang melalui jejak-jejaknya di alam ini — dengan seluruh dalilnya bersaksi bagi kehidupan Sang Dzât Hayy Qayyûm dan wujûb wujud-Nya; dan bersaksi bagi kehidupan sarmadi-Nya, yang dengan satu bayangannya menerangi seluruh alam dan dengan satu manifestasinya menghidupkan seluruh negeri akhirat beserta zarah-zarahnya.
Kehidupan pun memandang kepada rukun iman kepada para malaikat dan membuktikannya secara isyarat. Sebab madem hasil terpenting di alam adalah kehidupan; dan para makhluk hiduplah yang paling luas tersebar, yang salinan-salinannya diperbanyak karena berharganya, yang meramaikan penginapan bumi dengan kafilah-kafilah yang datang silih berganti; dan madem bola bumi telah dipenuhi jenis-jenis makhluk hidup sebanyak ini, dan dengan hikmah memperbarui serta memperbanyak jenis-jenis makhluk hidup, ia setiap waktu terisi dan terkosongkan, dan bahkan pada materi-materinya yang paling hina dan membusuk pun diciptakan makhluk-makhluk hidup secara melimpah hingga menjadi mahsyar makhluk-makhluk renik; dan madem kesadaran dan akal — intisari tersuling paling murni dari kehidupan — serta ruh — permata kehidupan yang lembut dan tetap — diciptakan di bola bumi dalam jumlah amat melimpah; seakan-akan bola bumi dihidupkan dan diramaikan dengan kehidupan, akal, kesadaran, dan arwah. Tentulah mustahil benda-benda langit — yang lebih lembut, lebih bercahaya, lebih besar, dan lebih penting daripada bola bumi — tinggal mati, beku, tanpa kehidupan, tanpa kesadaran. Berarti makhluk-makhluk berkesadaran dan hidup, yang akan meramaikan langit, matahari, dan bintang-bintang, memberinya keadaan hidup, memperlihatkan hasil penciptaan langit, dan menerima seruan-seruan Subhani — para penghuni yang sesuai dengan langit itu — pasti ada dengan rahasia kehidupan: mereka itulah para malaikat.
Rahasia hakikat kehidupan pun memandang kepada rukun "iman kepada para nabi" dan membuktikannya secara isyarat. Ya, madem alam diciptakan untuk kehidupan, dan kehidupan adalah salah satu tajalli teragung dari Sang Hayy Qayyûm Azali, ukiran-Nya yang paling sempurna, seni-Nya yang paling indah. Madem kehidupan sarmadi memperlihatkan dirinya melalui pengutusan para rasul dan penurunan kitab-kitab. Ya, seandainya tidak ada kitab-kitab dan para nabi, kehidupan azali itu tidak akan diketahui. Sebagaimana hidupnya seseorang dipahami dari bicaranya. Demikian pula, yang memperlihatkan kalimat dan seruan Zat yang berbicara, bertutur, memerintah dan melarang, serta berseru dari balik alam gaib di bawah tirai alam ini — ialah para nabi dan kitab-kitab yang diturunkan. Tentu, sebagaimana kehidupan di alam bersaksi secara pasti bagi wujûb wujud Sang Hayy Azali; ia pun memandang kepada rukun "pengutusan para rasul dan penurunan kitab-kitab" — sinar-sinar, penampakan-penampakan, dan hubungan-hubungan kehidupan azali itu — dan membuktikannya secara isyarat. Dan khususnya, karena risalah Muhammad صلى الله عليه وسلم dan wahyu Al-Qur'an berkedudukan sebagai ruh dan akal kehidupan, dapat dikatakan: kebenaran keduanya sepasti wujud kehidupan ini.
Ya, sebagaimana kehidupan adalah intisari tersuling dari alam ini; dan kesadaran serta perasaan adalah intisari kehidupan, tersuling dari kehidupan; dan akal pun adalah intisari kesadaran, tersuling dari kesadaran dan perasaan; dan ruh adalah permata kehidupan yang murni dan bersih, zatnya yang tetap dan mandiri. Demikian pula kehidupan Muhammad صلى الله عليه وسلم yang lahir dan batin adalah intisari dari segala intisari, tersuling dari kehidupan dan ruh alam; dan risalah Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah intisari termurni, tersuling dari perasaan, kesadaran, dan akal alam. Bahkan kehidupan Muhammad صلى الله عليه وسلم yang lahir dan batin — dengan kesaksian jejak-jejaknya — adalah kehidupan bagi kehidupan alam; dan risalah Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah kesadaran dan cahaya bagi kesadaran alam. Dan wahyu Al-Qur'an — dengan kesaksian hakikat-hakikatnya yang hidup — adalah ruh kehidupan alam dan akal kesadaran alam.
Ya, ya, ya!.. Seandainya cahaya risalah Muhammad صلى الله عليه وسلم keluar dan pergi dari alam, alam akan wafat. Seandainya Al-Qur'an pergi, alam akan menjadi gila, dan bola bumi akan kehilangan kepala dan akalnya. Bahkan kepalanya yang telah tanpa kesadaran itu akan terbentur pada sebuah planet dan akan meletuskan suatu kiamat.
Kehidupan pun memandang kepada rukun "iman kepada qadar" dan membuktikannya secara isyarat. Sebab madem kehidupan adalah cahaya alam kesaksian dan tengah menguasainya; dan ia adalah hasil serta tujuan wujud; dan ia adalah cermin paling menghimpun bagi Khâliq alam; dan ia adalah model dan daftar isi paling sempurna dari aktivitas Rabbani — semoga tak keliru dalam tamsil — ia berkedudukan sebagai sejenis programnya. Tentu rahasia kehidupan meniscayakan: alam gaib — yakni masa lalu dan masa depan, yakni makhluk-makhluk yang telah lalu dan yang akan datang — berada dalam keadaan keteraturan, tatanan, keterketahuian, tersaksikan, tertentukan, dan siap mematuhi perintah-perintah takwîniyah — yang semuanya berkedudukan sebagai kehidupan maknawi mereka. Sebagaimana benih asli sebatang pohon dan akarnya, serta biji-biji di pucuknya dan di dalam buah-buahnya, persis seperti pohon itu, memperoleh sejenis kehidupan. Bahkan mereka membawa undang-undang kehidupan yang lebih halus daripada undang-undang kehidupan pohon itu. Dan sebagaimana benih-benih dan akar-akar yang ditinggalkan musim gugur yang lalu — sebelum musim semi yang hadir ini — serta biji-biji dan akar-akar yang akan ditinggalkan musim semi ini setelah ia pergi, bagi musim semi yang akan datang: semuanya, seperti musim semi ini, membawa manifestasi kehidupan dan tunduk kepada undang-undang kehidupan. Persis seperti itu pula: pohon alam dengan seluruh dahan dan rantingnya — masing-masing memiliki masa lalu dan masa depan. Ia memiliki silsilah yang tersusun dari tahap-tahap dan keadaan-keadaan yang telah lalu dan yang akan datang. Wujud-wujud yang berbilang dari setiap jenis dan setiap bagiannya di dalam ilmu Ilahi dengan tahap-tahap yang beraneka membentuk sebuah silsilah wujud ilmi; dan sebagaimana wujud lahiriah, wujud ilmi pun memperoleh manifestasi maknawi dari kehidupan umum: takdir-takdir kehidupan diambil dari lauh-lauh takdir yang bermakna dan hidup itu.
Ya, penuhnya alam arwah — salah satu jenis alam gaib — dengan arwah yang merupakan kehidupan itu sendiri, materi kehidupan, permata dan zat kehidupan, tentu menghendaki dan mengharuskan jenis lain dan bagian kedua dari alam gaib — yang disebut masa lalu dan masa depan — pun memperoleh manifestasi kehidupan. Lagi pula keteraturan sempurna, keadaan-keadaan bermakna, serta buah-buah dan tahap-tahap yang hidup pada wujud ilmi sesuatu memperlihatkan bahwa ia memperoleh sejenis kehidupan maknawi. Ya, manifestasi kehidupan yang tersaksikan ini — cahaya dari matahari kehidupan azali itu — tentu tidak mungkin terbatas hanya pada alam kesaksian ini, pada masa kini ini, dan pada wujud lahiriah ini. Melainkan setiap alam, sesuai kemampuannya, memperoleh manifestasi cahaya itu; dan alam, dengan seluruh alam-alamnya, hidup dan bercahaya dengan manifestasi itu. Jika tidak — sebagaimana dilihat pandangan kesesatan — setiap alam akan menjadi jenazah besar nan mengerikan dan alam reruntuhan yang gelap di bawah suatu kehidupan sementara dan lahiriah.
Maka satu sisi luas dari rukun iman kepada qadhâ' dan qadar pun dipahami dan menjadi tetap dengan rahasia kehidupan. Yakni: sebagaimana keadaan hidup alam kesaksian dan benda-benda yang kini ada tampak melalui keteraturan dan hasil-hasilnya. Demikian pula makhluk-makhluk yang telah lalu dan yang akan datang — yang terhitung alam gaib — secara maknawi memiliki wujud maknawi yang hidup dan ketetapan ilmi yang beruh: jejak kehidupan maknawi itu tampak dan menampak melalui Lauh Qadhâ' dan Qadar, dengan nama "muqaddarat" (segala yang telah ditakdirkan).